https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/issue/feedJournal of Holistics and Health Sciences2026-04-12T16:51:13+00:00Ida Sofiyanti[email protected]Open Journal Systems<div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 10px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Nama Jurnal: <a href="http://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/index">Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS)</a></li> <li class="show">Singkatan: JHHS</li> <li class="show">Frekuensi: Maret dan September</li> <li class="show">ISSN: Print - | Online 2686-3812</li> <li class="show">Editor in Chief:Ida Sofiyanti, S. Si.T., M. Keb.</li> <li class="show">DOI: 10.35473/jhhs</li> <li class="show">Akreditasi : Sinta 4</li> <li class="show">Penerbit: LPPM Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p>Jurnal JHHS terbit dua kali setahun pada bulan September dan Maret berisi tentang tulisan ilmiah tentang hasil penelitian pada bidang ilmu kesehatan</p> <p>untuk penulis dan peneliti :</p> <p>1. Kirimkan naskah artikel sesuai dengan template yang baik dan benar (silahkan unduh di template JHHS)<br />2. Masukkan semua data penulis (penulis 2, penulis 3, dst) saat mengisi metadata pada OJS<br />3. Gunakan referensi terbaru dalam 10 tahun terakhir<br />4. Gunakan Aplikasi Mendeley dengan style American Psychological Association 7th<br />5. Skor maksimum untuk cek turnitin 25%. </p> <p>Editor akan langsung menolak/ decline jika naskah artikel yang dikirimnkan tidak sesuai dengan kriteria di atas, Terima kasih</p> </div> </div>https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/696Stres Akademik sebagai Faktor Risiko Dispepsia Fungsional pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah 2026-01-31T15:05:54+00:00Naufal Waly Anas[email protected]M. Fathi Ilmawan[email protected]Peppy Nawangsasi[email protected]I Ketut Tirka Nandaka[email protected]<p><em>Medical education is widely recognized for its high academic demands, intensive schedules, and frequent examinations, all of which may contribute to academic stress among students. Unmanaged stress can affect the autonomic nervous system and increase gastric acid secretion through interactions within the brain–gut axis, manifesting as gastrointestinal disturbances, particularly functional dyspepsia. This study aimed to examine the relationship between academic stress and the occurrence of functional dyspepsia among preclinical medical students of the Faculty of Medicine, Hang Tuah University, class of 2022. This study employed an descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was purposive sampling, involving 72 students selected from the 2022 cohort population. Data were collected using PSS-10 to assess stress levels and R4-FDDQ to diagnose functional dyspepsia. Data analysis was conducted using the Chi-square statistical test. The results demonstrated a statistically significant association between academic stress and functional dyspepsia, as indicated by the Chi-square test with a p-value of </em>0,014<em>. This study concludes that there is a significant relationship between academic stress and the occurrence of functional dyspepsia among preclinical medical students of the Faculty of Medicine, Hang Tuah University, class of 2022. Higher levels of academic stress are associated with an increased likelihood of developing functional dyspepsia.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Pendidikan kedokteran dikenal memiliki tuntutan akademik yang tinggi, padatnya jadwal, dan ujian yang sering, yang berpotensi memicu stres akademik pada mahasiswa. Stres yang tidak tertangani dapat memengaruhi sistem saraf otonom dan meningkatkan sekresi asam lambung melalui interaksi <em>brain-gut axis</em>, yang bermanifestasi sebagai gangguan pencernaan, khususnya dispepsia fungsional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara stres akademik dan kejadian dispepsia fungsional pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah angkatan 2022. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>purposive sampling</em> dengan jumlah responden sebanyak 72 mahasiswa dari populasi angkatan 2022. Pengumpulan data dilakukan menggunakan PSS-10 untuk mengukur tingkat stres dan R4-FDDQ untuk diagnosis dispepsia fungsional. Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stres akademik dengan dispepsia fungsional dari hasil uji Chi-Square dengan nilai p-value sebesar 0,014. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dan kejadian dispepsia fungsional pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah angkatan 2022. Semakin tinggi tingkat stres akademik, semakin besar peluang terjadinya dispepsia fungsional.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/654Dampak Pola Asuh Orang Tua pada Kualitas Hidup Anak Stunting: Studi pada Balita Usia 2-5 Tahun di Kota Kediri2025-09-12T07:41:25+00:00Dian Rahmawati[email protected]Lia Agustin[email protected]Santi Arista Bijae[email protected]<p><em>Stunting is a health problem that not only inhibits physical growth but also affects children’s quality of life</em><em>. Beyond nutrition, parenting styles play a key role in shaping children’s well-being, especially during the golden period of development. This study aimed to analyze the relationship between parenting style and the quality of life of stunted children aged 2–5 years old in Kediri City. An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted on 30 parents of stunted children selected using purposive sampling. Parenting style was measured using a questionnaire, while quality of life was measured with the WHOQOL-BREF instrument. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of α = 0.05. The results showed that 60% of parents applied poor parenting, and 66.7% of stunted children had a low quality of life. Cross-tabulation revealed that children with parents practicing poor parenting were more likely to have low quality of life, while most children with good parenting experienced better quality of life. Chi-square test results indicated a significant relationship (χ² = 6.412; p = 0.011). Good parenting can improve children’s quality of life even with stunting</em><em>. Healthcare workers are expected to provide education on parenting style to support the quality of life for stunted children</em><strong><em>.</em></strong></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stunting merupakan masalah kesehatan yang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik tetapi juga memengaruhi kualitas hidup anak. Selain gizi, pola asuh berperan penting dalam membentuk kesejahteraan anak, terutama pada periode emas perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dan kualitas hidup anak stunting usia 2–5 tahun di Kota Kediri. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Dengan tehnik purposive sampling didapatkan responden 30 orang tua anak stunting. Variabel pola asuh diukur menggunakan kuesioner, sedangkan kualitas hidup diukur dengan instrumen WHOQOL-BREF. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% orang tua menerapkan pola asuh kurang baik, dan 66,7% anak stunting memiliki kualitas hidup yang rendah. Tabulasi silang menunjukkan bahwa anak-anak dengan pola asuh kurang baik cenderung memiliki kualitas hidup yang rendah, sementara sebagian besar anak dengan pola asuh yang baik memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Hasil uji chi-square menunjukkan hubungan yang signifikan (χ² = 6,412; p = 0,011). Pola asuh yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup anak, bahkan pada anak dengan stunting. Tenaga kesehatan diharapkan memberikan edukasi tentang pola asuh untuk mendukung kualitas hidup anak stunting.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/666Uji Konstruk Validitas dan Reliabilitas Instrumen Pengukuran Pengunaan Media Sosial, Kesehatan Mental dan Perilaku Kesehatan Reproduksi pada Remaja2025-11-16T11:55:41+00:00Nurul Jannah[email protected]Lubna Nada Mufidah[email protected]Margaretha Maria Shinta Pratiwi[email protected]<p><em>The use of social media among adolescents has surged rapidly in the digital era and has the potential to impact their mental health and reproductive health behaviors. Therefore, valid and reliable instruments are needed to assess these relationships. This study aims to examine the construct validity and reliability of five instruments: the Youth Social Media Engagement Scale (YSMES), Adolescent Anxiety Screening Inventory (AASI), Youth Self-Concept Assessment Scale (YSCAS), Adolescent Sleep Quality Index (ASQI), and Adolescent Reproductive Health Behavior Scale (ARHBS) in measuring social media engagement, anxiety, self-concept, sleep quality, and reproductive health behaviors among adolescents. A cross-sectional design with a stratified cluster sampling technique was employed, involving 208 adolescents aged 13–18 years. Construct validity was analyzed using confirmatory factor analysis (CFA), while internal reliability was assessed using Cronbach’s alpha. CFA results showed χ²/df values between 1.72 and 1.90, CFI between 0.94 and 0.96, TLI between 0.93 and 0.95, and RMSEA between 0.052 and 0.058, indicating that all instruments have good validity. Cronbach’s alpha values for YSMES = 0.89, AASI = 0.87, YSCAS = 0.88, ASQI = 0.86, and ARHBS = 0.90 confirm high internal reliability. Thus, all instruments are valid and reliable for measuring social media use, mental health, and reproductive health behaviors among adolescents.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penggunaan media sosial pada remaja meningkat pesat di era digital dan berpotensi memengaruhi kesehatan mental serta perilaku kesehatan reproduksi mereka. Oleh karena itu, diperlukan instrumen yang valid dan reliabel untuk menilai hubungan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji validitas konstruk dan reliabilitas lima instrumen: : <em>Youth Social Media Engagement Scale</em> (YSMES), <em>Adolescent Anxiety Screening Inventory</em> (AASI), <em>Youth Self-Concept Assessment Scale</em> (YSCAS), <em>Adolescent Sleep Quality Index</em> (ASQI), dan <em>Adolescent Reproductive Health Behavior Scale</em> (ARHBS) dalam mengukur keterlibatan media sosial, kecemasan, konsep diri, kualitas tidur, dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja. Desian Penelitian <em>cross-sectional </em>dengan tehnik <em>sampling</em> <em>stratified cluster </em>ini melibatkan 208 remaja berusia 13–18 tahun. Validitas konstruk dianalisis menggunakan <em>confirmatory factor analysis</em> (CFA), sedangkan reliabilitas internal dievaluasi dengan Cronbach’s alpha. Hasil CFA menunjukkan nilai χ²/df 1,72–1,90, CFI 0,94–0,96, TLI 0,93–0,95, dan RMSEA 0,052–0,058, mengindikasikan seluruh instrumen memiliki validitas yang baik. Cronbach’s alpha untuk YSMES = 0,89, AASI = 0,87, YSCAS = 0,88, ASQI = 0,86, dan ARHBS = 0,90, menegaskan reliabilitas internal yang tinggi. Dengan demikian, seluruh instrumen dinyatakan valid dan reliabel untuk mengukur penggunaan media sosial, kesehatan mental, dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/698Penerapan Teknik Distraksi Menggambar dan Mewarnai dalam Menurunkan Anxietas Hospitalisasi pada Anak Geds Febris 2026-02-04T04:46:57+00:00Sumijan Sumijan[email protected]Boediarsih[email protected]<p><em>Hospitalization in children often triggers an anxiety response characterized by crying, refusal of medical treatment, and fear of healthcare professionals. If left untreated, this condition can hinder the healing process. One non-pharmacological intervention to address this is play therapy with drawing and coloring distraction techniques. This study aims to describe the application of nursing care using drawing and coloring distraction techniques to reduce hospitalization stress in children with febrile moderate dehydration gastroenteritis (GEDS). The research method used a case study with a nursing process approach in two pediatric patients in the Nakula 2 Ward, K.R.M.T. Wongsonegoro Regional Hospital, Semarang. Data were collected through interviews, observations, and physical examinations over three days of treatment. The instrument to measure anxiety was the Facial Image Scale with a scale of 5-1. The study results showed that after the drawing and coloring intervention, the anxiety levels of both patients decreased significantly, as indicated by the children being calmer, more cooperative during procedures, and a reduction in tension from a scale of 4 to 2. This technique is effective as a supporting strategy in pediatric nursing care to improve adaptation during hospitalization.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hospitalisasi pada anak sering kali memicu respons kecemasan (<em>anxietas</em>) yang ditandai dengan perilaku menangis, menolak tindakan medis, dan ketakutan terhadap tenaga kesehatan. Kondisi ini, jika tidak ditangani, dapat menghambat proses penyembuhan. Salah satu intervensi nonfarmakologis untuk mengatasi hal tersebut adalah terapi bermain dengan teknik distraksi menggambar dan mewarnai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan dengan teknik distraksi menggambar dan mewarnai dalam menurunkan <em>stres hospitalisasi pada anak dengan gastroenteritis dehidrasi sedang (GEDS) febris</em>. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan pada dua pasien anak di Ruang Nakula 2 RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik selama tiga hari perawatan. Instrumen untuk mengukur anxiety menggunakan <em>Facial Image Scale</em> dengan skala 5-1. Hasil studi menunjukkan bahwa setelah pemberian intervensi menggambar dan mewarnai, tingkat kecemasan kedua pasien menurun secara signifikan, yang ditandai dengan anak lebih tenang, kooperatif saat tindakan, dan ketegangan berkurang dari skala 4 menjadi 2 . Teknik ini efektif sebagai strategi penunjang dalam asuhan keperawatan anak untuk meningkatkan adaptasi selama hospitalisasi.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/703Hubungan Stres Akademik dengan Derajat Sindrom Pramenstruasi pada Mahasiswi Kebidanan2026-02-22T03:49:08+00:00Kadek Desy Ariyantini[email protected]Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini[email protected]Putu Irma Pratiwi[email protected]<p><em>Premenstrual Syndrome (PMS) is a common condition experienced by women of reproductive age, including university students, characterized by a combination of physical, psychological, and emotional symptoms that occur during the luteal phase of the menstrual cycle. Psychological stress is recognized as one of the factors that may exacerbate PMS symptoms, particularly among students facing academic demands. This study aimed to determine the relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha.</em> <em>This research employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all active midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. A total of 159 respondents were included using a total sampling technique. Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS) to assess stress levels and the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) to measure the incidence and severity of PMS. Data analysis included univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Spearman Rank correlation test with SPSS software.</em> <em>The results showed that most respondents experienced moderate stress levels (81.1%), while 13.8% experienced high stress and 5.0% experienced low stress. Regarding PMS, the majority of respondents experienced PMS of moderate severity (36.5%) and severe severity (31.4%), while only a small proportion did not experience PMS (3.1%). Statistical analysis revealed a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome, with a p-value of 0.001 (p < 0.05). Higher stress levels were associated with increased severity of PMS symptoms.</em> <em>In conclusion, there is a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students. These findings indicate that psychological stress plays an important role in the occurrence and severity of PMS. Therefore, stress management interventions and reproductive health education are essential to improve the well-being and academic performance of midwifery students.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p><em>Premenstrual Syndrome</em> (PMS) adalah gangguan yang sering terjadi pada perempuan dalam usia subur, termasuk mahasiswi, yang ditandai dengan munculnya berbagai keluhan fisik, emosional, dan psikologis pada fase luteal siklus menstruasi. Mahasiswi kebidanan termasuk kelompok yang berisiko mengalami stres akibat tekanan akademik dan praktik klinik yang berkelanjutan. Tingginya prevalensi sindrom pramenstruasi yang berpotensi dapat mengganggu fungsi akademik dan psikososial mahasiswi. Apabila faktor yang berhubungan dengan PMS, khususnya stres psikologis, tidak diidentifikasi, maka penanganan yang diberikan cenderung bersifat simptomatik dan tidak menyentuh faktor predisposisi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perburukan gejala, penurunan kualitas hidup, serta gangguan performa akademik. Oleh karena itu, penelitian ini penting sebagai dasar dalam penyusunan program manajemen stres dan promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (<em>cross sectional</em>). Seluruh mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023–2025 dijadikan populasi, dengan teknik <em>total sampling</em> sehingga diperoleh 159 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen <em>Perceived Stress Scale</em> (PSS) untuk menilai tingkat stres dan <em>Shortened Premenstrual Assessment Form</em> (SPAF) untuk mengukur kejadian serta tingkat keparahan PMS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (81,1%), dengan 13,8% mengalami stres tinggi dan 5,0% mengalami stres rendah. Berdasarkan kejadian Premenstrual Syndrome (PMS), sebagian besar responden mengalami PMS dengan derajat sedang (36,5%) dan berat (31,4%), sedangkan 3,1% tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik <em>Spearman Rank</em> menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian PMS. Semakin tinggi tingkat stres, semakin berat derajat PMS yang dialami. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan derajat sindrom pramenstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha. Stres psikologis berperan dalam meningkatkan keparahan gejala PMS, sehingga diperlukan upaya manajemen stres serta edukasi kesehatan reproduksi guna meningkatkan kualitas hidup dan kesiapan akademik mahasiswi.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/705Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Kebidanan2026-02-21T14:50:31+00:00I Gusti Ayu Agung Intan Dewi[email protected]Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini[email protected]Putu Irma Pratiwi[email protected]<p><em>The menstrual cycle is an important component in assessing women's reproductive health, reflecting the balance of the hormonal system. Irregular menstrual cycles can be an indication of metabolic or hormonal disorders, one of which is related to Body Mass Index (BMI). A BMI that is below or above the normal range has the potential to disrupt estrogen hormone regulation, thereby increasing the risk of menstrual cycle disorders, especially among female students. This study aims to analyze the relationship between Body Mass Index (BMI) and menstrual cycle patterns among midwifery students at the Faculty of Medicine, Ganesha University of Education (Undiksha). This study used a cross-sectional design with a total sampling method, involving 158 active students who completed a questionnaire. Data collection was carried out by distributing questionnaires online through Google Forms. The data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents had a normal BMI (69.6%) and a normal menstrual cycle (75.9%). Statistical analysis showed that respondents with abnormal BMI (underweight or overweight) had a higher tendency to experience irregular menstrual cycles compared to respondents with normal BMI. Statistical tests showed a p-value of 0.040 (p <0.05), indicating a significant relationship between</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Siklus menstruasi merupakan salah satu komponen penting dalam menilai kesehatan reproduksi perempuan yang mencerminkan keseimbangan sistem hormonal. Ketidakteraturan siklus menstruasi dapat menjadi indikasi adanya gangguan metabolik atau hormonal, yang salah satunya berkaitan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status IMT yang berada di bawah maupun di atas batas normal berpotensi mengganggu regulasi hormon estrogen sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan siklus menstruasi, khususnya pada kelompok mahasiswi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pola siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Penelitian ini menggunakan desain <em>cross sectional</em> dengan metode pengambilan sampel yakni total sampling, melibatkan 158 mahasiswi aktif yang mengisi kuesioner. Proses pengumpulan data dilaksanakan dengan membagikan kuesioner secara daring melalui <em>Google Form</em>. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki IMT dalam kategori normal (69,6%) dan siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa responden dengan IMT tidak normal (kurus maupun <em>overweigth</em>) memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT normal. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,040 (p <0,05), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dan keteraturan siklus menstruasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa IMT berhubungan dengan keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan FK Undiksha. Oleh karena itu, disarankan untuk mempertahankan IMT dalam rentang normal sebagai upaya menjaga kesehatan reproduksi.</p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/693Hipertensi sebagai Determinan Kerentanan Fungsional pada Populasi Lanjut Usia: A Cross-sectional Study2026-01-26T07:10:29+00:00Irfan[email protected]Rijal[email protected]<p><em>The rapid growth of the elderly population in Indonesia has increased the burden of chronic diseases, including hypertension. In addition to being a major risk factor for cardiovascular diseases, hypertension is also believed to be associated with functional decline, which may negatively impact quality of life among older adults. This study aimed to assess the relationship between hypertension and functional impairment among older adults in Indonesia using a cross-sectional design and secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023). This study used a descriptive cross-sectional design. A total of 97,339 individuals aged 60 years and older were included in the analysis. Hypertension status was determined based on a history of medical diagnosis by a physician, while functional status was assessed using the Barthel Index. Data were analyzed using Spearman’s correlation test. The prevalence of hypertension among older adults was 21.9%, with higher rates observed in the 75–89 years age group (24.8%) and among females (26.2%). Most participants were functionally independent (80.0%), while the remainder exhibited varying levels of dependency. Statistical analysis revealed a significant correlation (p < 0.001) between the level of hypertension and functional impairment among older adults; however, the strength of the correlation was weak (r = 0.102). These findings indicate that hypertension is associated with an increased risk of functional limitations among older adults.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Pertumbuhan populasi lansia di Indonesia yang sangat pesat telah meningkatkan beban penyakit kronis, termasuk hipertensi. Selain menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, hipertensi juga diyakini berhubungan dengan penurunan fungsi, yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pada kelompok usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara hipertensi dan gangguan fungsional pada lansia di Indonesia dengan menggunakan desain potong lintang dan data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional study</em>. Jumlah sampel yang terlibat sebanyak 97.339 individu berusia 60 tahun ke atas. Instrumen yang digunakan untuk status hipertensi yaitu berdasarkan riwayat diagnosis medis (dokter), sedangkan status fungsional dinilai menggunakan Indeks Barthel. Analisis data menggunakan korelasi Spearman. Prevalensi hipertensi pada lansia adalah 21,9%, dengan angka lebih tinggi pada kelompok usia 75–89 tahun (24,8%) dan pada perempuan (26,2%). Sebagian besar peserta berada pada kategori mandiri secara fungsional (80,0%), sementara sisanya menunjukkan tingkat ketergantungan yang bervariasi. Analisis statistik menunjukkan adanya korelasi yang signifikan (p<0.001) atara tingkat hipertensi dan gangguan fungsional pada lansia, namun dengan koefisien korelasi yang lemah (r = 0,102). Temuan ini mengindikasikan bahwa hipertensi terkait dengan peningkatan risiko keterbatasan fungsi pada lansia. </p>2026-03-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/702Hubungan Antara Ukuran Lingkar Lengan Atas dan Indeks Massa Tubuh dengan Risiko Anemia pada Ibu Hamil Trimester Awal2026-02-21T01:20:10+00:00Ni Luh Erlya Lionita[email protected]Putu Irma Pratiwi[email protected]Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini [email protected]<p><em>Anemia in pregnant women remains a public health problem that requires serious attention, especially in the first trimester when physiological changes begin to increase the need for iron. Nutritional status is a major factor associated with anemia in pregnant women. Assessment of nutritional status of pregnant women can be performed using Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Body Mass Index (BMI). However, data describing the relationship between MUAC and BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the first trimester, particularly in midwifery practice, is still limited. Most studies still focus on the later trimester and are conducted in health facilities at the hospital and community health centers (Puskesmas). Therefore, research is needed to support early detection of anemia from early pregnancy. This study was conducted to examine the relationship between MUAC and BMI and the occurrence of anemia in pregnant women in the first trimester. This study applied a quantitative design with a descriptive analytical approach using a cross-sectional method. The population in this study included all pregnant women in the first trimester who visited the TPMB Putu Agustini in Tukadmungga Village, Buleleng Regency in 2025, totaling 91 respondents, with a total sample of 63 respondents determined using a purposive sampling technique. The data used were secondary data sourced from the antenatal care register. The instrument used in this study was an observation sheet or checklist used to record data from the register, including data on LiLA, BMI, and Hb levels of pregnant women. Data analysis was carried out through univariate and bivariate stages using the Fisher's Exact Test. The results of the study showed a significant relationship between LiLA and the occurrence of anemia (p = 0.014). In addition, a significant association was also found between BMI and anemia (p < 0.001). This study concluded that LiLA and BMI showed a significant relationship to anemia in pregnant women in the first trimester.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Anemia pada ibu hamil hingga kini masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada trimester pertama ketika perubahan fisiologis mulai meningkatkan kebutuhan zat besi. Status gizi berperan sebagai faktor utama yang berkaitan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Penilaian status gizi ibu hamil dapat dilakukan dengan menggunakan parameter Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, data yang menggambarkan hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I, khususnya pada pelayanan praktik mandiri bidan masih terbatas. Mayoritas studi masih memusatkan perhatian pada trimester lanjut serta dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat rumah sakit dan puskesmas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendukung deteksi dini anemia sejak awal kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap terjadinya anemia pada ibu hamil trimester I. Studi ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik menggunakan metode <em>cross-sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh ibu hamil trimester I yang melakukan kunjungan ke TPMB Putu Agustini Desa Tukadmungga Kabupaten Buleleng pada tahun 2025 sebanyak 91 responden, dengan total sampel sebanyak 63 responden yang ditentukan melalui teknik <em>purposive sampling. </em>Data yang digunakan berupa data sekunder yang bersumber dari register pelayanan antenatal. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi atau checklist yang dipakai untuk mencatat data dari register, meliputi data LiLA, IMT, dan kadar Hb ibu hamil. Analisis data dilakukan melalui tahap univariat dan bivariat dengan menggunakan uji <em>Fisher’s Exact Test</em>. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara LiLA terhadap terjadinya anemia (p = 0,014). Selain itu, ditemukan pula keterkaitan yang signifikan antara IMT terhadap anemia (p < 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa LiLA dan IMT menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap anemia pada ibu hamil trimester I.</p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/700Analisis Hubungan Paritas dan Usia Ibu dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil 2026-02-22T02:37:06+00:00Kadek Karunia Dita Rahayu[email protected]Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini[email protected]Putu Irma Pratiwi[email protected]Luh Mertasari[email protected]<p><em>Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnancy remains a nutritional problem that may increase maternal health risks and hinder fetal growth. Parity and maternal age are often discussed as related factors, yet previous evidence is inconsistent, especially across midwifery care settings. This study examined the association of parity and maternal age with CED among pregnant women attending antenatal care (ANC) at TPMB Luh Mertasari in 2024-2025. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using ANC medical records. Total sampling included 188 pregnant women. CED status was determined using mid-upper arm circumference (MUAC): MUAC <23.5 cm was classified as CED and MUAC ≥23.5 cm as non-CED. Data were summarized using frequencies and percentages. Associations were tested using Fisher’s Exact test (two-sided) because at least one contingency-table cell had an expected count <5, with p<0.05 considered significant. Most participants were non-CED (90.4%). No CED cases were found in the high-risk parity group (n=26), while 18 women (11.1%) in the non-high-risk parity group (n=162) were classified as CED (p=0.141). In the high-risk age group (n=33), 3 women (9.1%) were classified as CED, and in the non-high-risk age group (n=155), 15 women (9.7%) were classified as CED (p=1.000). In conclusion, CED in this setting was not significantly associated with parity or maternal age. Given the multifactorial nature of CED, prevention should emphasize routine nutritional screening and strengthened nutrition interventions for all pregnant women during ANC.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan menghambat pertumbuhan janin. Paritas dan usia ibu kerap dipertimbangkan sebagai faktor yang berkaitan dengan KEK. Namun, temuan penelitian terdahulu masih bervariasi sehingga diperlukan bukti pada konteks pelayanan kebidanan. Penelitian ini menganalisis hubungan paritas dan usia ibu dengan kejadian KEK pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal (ANC) di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Data diperoleh dari rekam medis pelayanan ANC, dengan total sampling sebanyak 188 ibu hamil. Status KEK ditentukan berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LiLA), yaitu KEK jika LiLA <23,5 cm dan tidak KEK jika LiLA ≥23,5 cm. Analisis univariat disajikan dalam frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact (2-sided) karena terdapat expected count <5, dengan p<0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami KEK (90,4%). Pada paritas berisiko (n=26) tidak ditemukan KEK, sedangkan pada paritas tidak berisiko (n=162) terdapat 18 responden (11,1%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=0,141. Pada usia berisiko (n=33) terdapat 3 responden (9,1%) dengan KEK dan pada usia tidak berisiko (n=155) terdapat 15 responden (9,7%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=1,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian KEK pada ibu hamil di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025 tidak berkaitan secara signifikan dengan paritas maupun usia ibu. Mengingat KEK bersifat multifaktorial, upaya pencegahan perlu menekankan skrining status gizi secara rutin dan penguatan intervensi gizi pada seluruh ibu hamil selama pelayanan ANC.</p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/704Hubungan Tingkat Alexithymia dengan Kecanduan Media Sosial pada Remaja di SMA Negeri 1 Tuntang2026-02-20T20:22:31+00:00Reike kumalasari[email protected]Mona Saparwati[email protected]<p><em>The development of digital technology has encouraged increased use of social media among adolescents, which has the potential to cause addiction because adolescents are still in the stage of emotional and social development. One psychological factor that is thought to play a role is alexithymia, which is the inability of individuals to recognize and express emotions. Adolescents with alexithymia tend to use social media as a means of emotional escape, thereby increasing the risk of addictive behavior. This study aims to determine the relationship between the level of alexithymia and social media addiction among adolescents in SMA Negeri 1 Tuntang. The study used a correlational quantitative design with a population of 336 tenth-grade students and a sample of 77 students determined using quota sampling techniques. The instruments used were the Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) and the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that most respondents were in the high alexithymia category (53.2%), while the level of social media addiction was mostly in the moderate category (35.1%). The Chi-Square test showed a significant relationship between the level of alexithymia and social media addiction). The conclusion of this study is that alexithymia is significantly related to social media addiction. Suggestions for future researchers include expanding the scope of research variables by examining other psychological aspects that play a role in addiction.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital mendorong peningkatan penggunaan media sosial pada remaja, yang berpotensi menimbulkan kecanduan karena remaja masih berada pada tahap perkembangan emosi dan sosial. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan adalah <em>alexithymia</em>, yaitu ketidakmampuan individu dalam mengenali dan mengekspresikan emosi. Remaja dengan <em>alexithymia</em> cenderung menggunakan media sosial sebagai sarana pelarian emosional sehingga meningkatkan risiko perilaku adiktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat <em>alexithymia</em> dengan kecanduan media sosial pada remaja di SMA Negeri 1 Tuntang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan populasi 336 siswa kelas X dan sampel sebanyak 77 siswa yang ditentukan menggunakan teknik <em>quota sampling</em>. Instrumen yang digunakan adalah <em>Toronto Alexithymia Scal</em>e (TAS-20) dan Bergen <em>Social Media Addiction Scale</em> (BSMAS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori <em>alexithymia</em> tinggi (53,2%), sedangkan tingkat kecanduan media sosial paling banyak berada pada kategori sedang (35,1%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat <em>alexithymia</em> dengan kecanduan media sosial. Simpulan penelitian ini adalah <em>alexithymia</em> berhubungan signifikan dengan kecanduan media sosial. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat memperluas cakupan variabel penelitian dengan mengkaji aspek psikologis lain yang berperan dalam kecanduan media sosial.</p>2026-03-13T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/717Hubungan Paritas dengan Terjadinya Depresi pada Ibu Hamil di Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan2026-03-05T04:13:13+00:00Nurul Firdaus[email protected]Masruroh[email protected]<p><em>Pregnancy is a process in a woman's life that can cause physical and psychological changes that can increase the risk of mental health disorders, one of which is antenatal depression. Antenatal depression not only receives less attention, but data is also difficult to find. Nulliparous pregnant women tend to experience higher levels of mental health problems due to their first pregnancy and childbirth. The purpose of this study was to determine the relationship between parity and depression in pregnant women. This quantitative study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all pregnant women in their first and third trimesters at the Krapyak Kidul Community Health Center in Pekalongan City. The sample was drawn from a total population of 67 pregnant women. Data were collected using the EPDS questionnaire and analyzed using the Chi-Square test. The results of this study showed that nulliparous pregnant women had a higher risk of depression (65.5%) compared to primiparous/multiparous women (13.2%). The Chi-Square test showed a significant association between parity and depression in pregnant women, with a p-value of 0.000. This indicates a significant association between parity and depression in pregnant women, with nulliparous women at higher risk of depression than primiparous/multiparous women. Suggestions include providing prenatal counseling on healthy pregnancy planning and physical and psychological changes during pregnancy, including education on the signs and symptoms of depression during pregnancy, so that mothers can recognize their psychological condition early.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kehamilan adalah suatu proses dalam kehidupan seorang wanita yang dapat menimbulkan perubahan fisik dan psikologis yang beresiko menyebabkan gangguan kesehatan mental salah satunya depresi antenatal. Depresi antenatal selain kurang mendapat perhatian, juga datanya sulit ditemukan. Ibu hamil nullipara cenderung mengalami masalah kesehatan mental lebih tinggi karena menghadapi kehamilan dan persalinan pertama kali. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan paritas dengan terjadinya depresi pada ibu hamil di Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil Trimester I dan ibu hamil Trimester III di wilayah Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan sebanyak 67 ibu hamil . Teknik pengambilan Sample total populasi yang berjumlah 67 ibu hamil. Pengumpulan data untuk variable depresi ibu hamil menggunakan lembar kuesioner <em>EPDS</em> dan data paritas diperolah dari buku KIA serta dianalisis dengan uji <em>Chi-Square.</em> Hasil dari penelitian ini didapatkan ibu hamil nullipara memiliki proporsi resiko depresi lebih tinggi (65,5%) dibandingkan dengan primipara / multipara (13,2%). Uji <em>Chi-Square</em> menunjukkan hubungan yang signifikan antara paritas dengan terjadinya depresi pada ibu hamil dengan <em>p value</em> = 0,000 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian depresi pada ibu hamil, dimana kelompok ibu hamil nullipara lebih beresiko mengalami depresi dibandingkan kelompok primipara / multipara. Saran memberikan konseling prenatal tentang perencanaan kehamilan sehat dan perubahan fisik dan psikologis selama kehamilan, termasuk didalamnya edukasi tentang tanda dan gejala depresi selama kehamilan, sehingga ibu dapat mengenali kondisi psikologisnya sejak dini.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/721Studi Analisis Kecemasan pada Remaja Putri dengan Obesitas di Kabupaten Semarang2026-03-13T13:08:36+00:00Trimawati[email protected]Mona Saparwati[email protected]Abdul Wahid[email protected]<p><em>Adolescent obesity is a growing public health problem worldwide and is associated not only with physical health consequences but also with mental health problems, particularly anxiety. Adolescent girls are more vulnerable to anxiety due to social and cultural pressures related to body image. This study aimed to examine the relationship between nutritional status based on body mass index (BMI) and anxiety levels among adolescent girls. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 155 adolescent girls aged 15–18 years from SMAN 1 Bergas and SMAN 1 Tuntang were selected using proportional sampling. Nutritional status was assessed by measuring body weight and height to calculate BMI, while anxiety levels were measured using the Generalized Anxiety Disorder (GAD) questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, including Fisher’s Exact test. Most participants had normal nutritional status (58.7%), while 10.3% were overweight and 1.9% were classified as obese. The most common anxiety level was mild anxiety (37.4%), followed by moderate (26.5%) and severe anxiety (10.3%). Bivariate analysis revealed a significant association between nutritional status and anxiety levels (p < 0.001), with a clear trend of increasing anxiety severity as nutritional status progressed from normal to overweight and obesity. Nutritional status, particularly overweight and obesity, is significantly associated with higher anxiety levels among adolescent girls. These findings highlight the importance of integrated interventions addressing both obesity prevention and mental health promotion in adolescent populations.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental, khususnya kecemasan. Remaja putri merupakan kelompok yang lebih rentan mengalami kecemasan akibat tekanan sosial terkait citra tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) dengan tingkat kecemasan pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian adalah 155 remaja putri usia 15–18 tahun yang bersekolah di SMAN 1 Bergas dan SMAN 1 Tuntang, yang dipilih menggunakan teknik <em>proportional sampling</em>. Status gizi diukur melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menghitung IMT, sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Generalized Anxiety Disorder (GAD). Analisis data dilakukan menggunakan uji univariat dan bivariat dengan uji Fisher Exact. Mayoritas responden memiliki status gizi normal (58,7%), namun ditemukan 10,3% gizi lebih dan 1,9% obesitas. Tingkat kecemasan terbanyak berada pada kategori cemas ringan (37,4%), diikuti cemas sedang (26,5%) dan cemas berat (10,3%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tingkat kecemasan (p < 0,001), dengan kecenderungan peningkatan tingkat kecemasan seiring meningkatnya status gizi dari normal menuju gizi lebih dan obesitas. Status gizi, khususnya gizi lebih dan obesitas, berhubungan signifikan dengan peningkatan tingkat kecemasan pada remaja putri. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan intervensi pengendalian obesitas dan dukungan kesehatan mental pada remaja putri.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/719Perilaku Menstrual Hygiene Management Yang Baik pada Remaja Putri dalam Menjaga Kebersihan Saat Menstruasi2026-03-12T00:24:08+00:00Dyah Ayu Puspitasari[email protected]Natalia Devi Oktarina[email protected]<p><em>Menstrual Hygiene Management (MHM) is an important aspect of adolescent reproductive health, especially in early adolescence when adolescent girls begin to experience menstruation. Poor menstrual hygiene practices can increase the risk of reproductive tract infections. Based on the results of the preliminary study, MHM's behavior is still not good, because adolescent girls have not received information about MHM practices. The purpose of this study is to find out the description of menstrual hygiene management behavior in adolescent girls at Al-Mas'udiyyah Putri Junior High School. This study uses a quantitative method with a descriptive research design. Data collection was carried out through an observational method using a structured questionnaire consisting of 22 question items related to menstrual hygiene management. The population in this study is all adolescent girls in grade VII who have experienced menstruation at Al-Mas'udiyyah Junior High School Putri. The research sample amounted to 120 respondents with a total sampling technique. Data analysis was carried out univariate to describe the characteristics of respondents and menstrual hygiene management behavior. The results showed that most of the respondents were 12 years old, namely 76 respondents. Based on menstrual hygiene management behavior, as many as 73 respondents (60.8%) were in the good category. Most of the young women at Al-Mas'udiyyah Putri Junior High School have good menstrual hygiene management behavior. </em><em>Young women are expected to improve correct menstrual hygiene management behavior, especially in the use of underwear, the use of sanitary pads, and the hygiene of the body, skin, and hair.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>Menstrual Hygiene Management</em> (MHM) merupakan aspek penting dalam kesehatan reproduksi remaja, khususnya pada masa awal remaja ketika remaja putri mulai mengalami menstruasi. Praktik kebersihan menstruasi yang kurang baik dapat meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, perilaku MHM masih kurang baik, karena remaja putri belum mendapat informasi tentang praktik MHM. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku menstrual hygiene management pada remaja putri di SMP Al–Mas’udiyyah Putri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode lembar observasional menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 22 item pertanyaan terkait menstrual hygiene management. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VII yang telah mengalami menstruasi di SMP Al–Mas’udiyyah Putri. Sampel penelitian berjumlah 120 responden dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan perilaku menstrual hygiene management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 12 tahun, yaitu sebanyak 76 responden. Berdasarkan perilaku menstrual hygiene management, sebanyak 73 responden (60,8%) berada pada kategori baik. Sebagian besar remaja putri di SMP Al–Mas’udiyyah Putri memiliki perilaku menstrual hygiene management yang baik. Remaja putri diharapkan dapat meningkatkan perilaku <em>menstrual hygiene management</em> yang benar, khususnya dalam penggunaan pakaian dalam, penggunaan pembalut, dan kebersihan tubuh, kulit,dan rambut</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/722Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Ketepatan Penggunaan Obat Anti Hiperkolesterolemia pada Pasien di Apotek Kecamatan Kaliwungu Kudus2026-03-14T04:53:10+00:00Ika Sinta Indriani[email protected]Zaenal Fanani[email protected]Emma Jayanti Besan[email protected]<p><em>Hypercholesterolemia is a lipid metabolism disorder characterized by elevated total blood cholesterol levels and is one of the major risk factors for cardiovascular disease. The proper use of antihypercholesterolemic drugs is essential to achieve therapeutic success, and one of the factors assumed to influence it is the patient’s level of knowledge. This study aimed to determine the relationship between the level of knowledge and the appropriateness of antihypercholesterolemic drug use among patients at pharmacies in Kaliwungu District, Kudus. This study employed a quantitative method with a cross-sectional design. Samples were selected using purposive sampling, involving 103 respondents who met the inclusion criteria. Data were collected using validated and reliable questionnaires, then analyzed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most respondents had a moderate level of knowledge, namely 55 respondents (53.4%), while the appropriateness of drug use was also mostly in the moderate category, namely 63 respondents (61.2%). The bivariate analysis showed χ² = 17.079 with a p-value = 0.002 (p < 0.05), indicating a significant relationship between the level of knowledge and the appropriateness of antihypercholesterolemic drug use. It can be concluded that the better the patient’s level of knowledge, the more appropriate the use of antihypercholesterolemic drugs tends to be.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hiperkolesterolemia merupakan gangguan metabolisme lemak yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total dalam darah dan menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia sangat penting untuk mencapai keberhasilan terapi, dan salah satu faktor yang diduga mempengaruhi adalah tingkat pengetahuan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia pada pasien di 15 apotek Kecamatan Kaliwungu Kudus. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling sebanyak 103 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup sebanyak 55 orang (53,4%), sedangkan ketepatan penggunaan obat sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 63 orang (61,2%). Hasil uji bivariat menunjukkan nilai χ² = 17,079 dengan p-value = 0,002 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan ketepatan penggunaan obat anti hiperkolesterolemia. Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik tingkat pengetahuan pasien, maka akan semakin tepat penggunaan obat anti hiperkolesterolemia.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/711Hubungan Motivasi Dengan Self-Care Management pada Lansia Hipertensi di Puskesmas Tengaran2026-03-01T06:49:31+00:00Yulia Eka Ariani[email protected]Suwanti[email protected]<p><em>Hypertension is a chronic disease commonly experienced by the elderly and requires continuous management through self-care management to prevent complications. However, the implementation of self-care management among the elderly is often not optimal. Motivation is an internal factor that plays an important role in encouraging elderly individuals to consistently engage in self-care behaviors.</em> <em>This study aimed to analyze the relationship between motivation and self-care management among elderly with hypertension at Tengaran Primary Health Center.</em> <em>This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 79 elderly individuals with hypertension, and all participants were included as samples using a total sampling technique. Data were collected using the HBP-SCP Motivation Scale and HBP-SCP Behaviour Scale questionnaires. Data analysis was conducted using Spearman Rank correlation test.</em> <em>The results showed that most elderly participants had moderate motivation (58 respondents; 73.4%) and moderate self-care management (63 respondents; 79.7%). Spearman Rank test show (p-value = 0.000 <0,05; r = 0.422) indicated positive and moderate strenght relationship between motivation and self-care management, indicated a positive correlation with moderate strength.There is a significant relationship between motivation and self-care management among elderly with hypertension at Tengaran Primary Health Center. Therefore, improving motivation in elderly with hypertension is necessary use micro-habit approach.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang banyak dialami lansia dan memerlukan pengelolaan berkelanjutan melalui <em>self-care management</em> untuk mencegah komplikasi. Namun, pelaksanaan <em>self-care management</em> pada lansia sering belum optimal. Motivasi merupakan faktor internal yang berperan penting dalam mendorong keterlibatan lansia dalam menjalankan perawatan diri secara konsisten. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan motivasi terhadap <em>self-care management</em> pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tengaran Penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 79 lansia dengan hipertensi, dan seluruh populasi dijadikan sampel menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner HBP-SCP <em>Motivation Scale</em> dan HBP-SCP B<em>ehaviour Scale.</em> Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi <em>Spearman Rank</em>. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar lansia memiliki tingkat motivasi pada kategori sedang sebanyak 58 responden (73,4%) dan <em>self-care management</em> juga pada kategori sedang sebanyak 63 responden (79,7%). Hasil uji spearman rank menunjukkan (<em>p-value</em> = 0,000 < 0,05 dan r= 0,422) untuk hubungan yang positif dengan kekuatan sedang antara motivasi <em>dengan self-care management</em> pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tengaran. Terdapat hubungan yang signifikan atara motivasi dan <em>self-care management </em>pada lansia hipertensi di Puskesmas Tengaran. Oleh karena itu meningkatkan motivasi pada lansia dengan hipertensi perlu dilakukan dengan cara pendekatan kecil tapi konsisten (<em>micro-habits</em>)</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/724Analisis Daya Hambat Minyak Atsiri Getah Pinus Merkusi (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Menggunakan Metode Difusi Sumuran2026-03-15T04:57:08+00:00Merli Puja Lestari[email protected]Hasriyani[email protected]Istianatus Sunnah[email protected]<p><em>Dental caries is a highly prevalent infectious disease closely associated with the activity of Streptococcus mutans. The use of synthetic antibacterial agents such as chlorhexidine and topical antibiotics is common; however, prolonged use may lead to adverse effects and bacterial resistance. This has prompted the development of natural-based antibacterial alternatives, including pine resin essential oil (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese). This study aimed to evaluate the in vitro antibacterial activity of pine resin essential oil against S. mutans. Antibacterial activity was assessed using the well diffusion method at concentrations of 10%, 15%, and 20%. Ampicillin and 10% DMSO served as positive and negative controls, respectively. Inhibition zone diameters were measured after 24 hours of incubation at 37°C and analyzed using one-way ANOVA followed by Tukey’s HSD test. Phytochemical screening revealed the presence of terpenoids (α-pinene and δ-3-carene), alkaloids, and flavonoids. The results demonstrated that the inhibition zone diameters against S. mutans at concentrations of 10%, 15%, and 20% were 13,65 ± 2,15 mm; 15,92 ± 1,75 mm; and 20,37 ± 3,46 mm, respectively. These findings indicate that antibacterial activity increased significantly with increasing concentration (p<0.05).</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Karies gigi merupakan penyakit infeksi dengan prevalensi tinggi yang berkaitan erat dengan aktivitas bakteri <em>Streptococcus mutans.</em> Upaya pencegahan umumnya dilakukan melalui penggunaan agen antibakteri sintetis seperti chlorhexidine dan antibiotik topikal, namun penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serta resistensi bakteri. Kondisi ini mendorong pengembangan alternatif antibakteri berbasis bahan alam, salah satunya minyak atsiri getah pinus merkusi (<em>Pinus merkusii </em>Jungh. et de Vriese). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri minyak atsiri getah pinus merkusi terhadap <em>S. mutans</em> secara <em>in vitro.</em> Uji antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan variasi konsentrasi minyak atsiri sebesar 10%, 15%, dan 20%. Ampicilin digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO10% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur setelah inkubasi 24 jam pada suhu 37°C dan dianalisis menggunakan <em>One Way ANOVA</em> dilanjutkan uji <em>Tukey HSD</em>. Skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan terpenoid <em>(</em><em>α-pinene </em>dan<em> δ-3-carene</em>), alkaloid dan flavonoid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diameter zona hambat terhadap <em>S. mutans</em> pada konsentrasi 10%, 15%, dan 20% masing-masing sebesar 13,65 ± 2,15 mm; 15,92 ± 1,75 mm; dan 20,37 ± 3,46 mm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan signifikan daya hambat bakteri seiring kenaikan konsentrasi (p<0,05).</p> <p> </p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/710Optimasi Formulasi Granul Effervescent Ekstrak Etanol 96% Buah Murbei (Morus nigra L.)2026-02-26T05:30:01+00:00Rizxan Auria Maharani[email protected]Hasriyani[email protected]Fahrudin Arif[email protected]<p><em>Mulberry fruit (Morus nigra L.) is known to contain phenolic compounds, particularly flavonoids and tannins, which possess pharmacological effects such as antioxidant, antibacterial and antidiabetic properties. This study aims to formulate effervescent granules from mulberry fruit extract and evaluate the tannin content. This is a quantitative study using an experimental method. Tannin content was determined using the Folin-Ciocalteu method via the formation of a coloured complex, which was analysed by UV-Vis spectrophotometry. Mulberry fruit extraction was carried out using the maceration method with 96% ethanol as the solvent at a ratio of 1:10, yielding a yield of 16.2%. The effervescent granules were formulated in three extract concentration variations: F1 (5%), F2 (10%) and F3 (15%). Evaluation of the preparations included organoleptic testing, homogeneity, flow time (<10 seconds), angle of repose (25°–40°), compressibility (<20%), solution pH (5–7), dissolution time (<5 minutes) and moisture content (<5%). The results of the study showed that the tannin content in the extract was 67.68 mg GAE/g and in the effervescent granules it ranged from 8.50 to 14.96 mg GAE/g. These results indicate that the mulberry fruit extract was successfully formulated into effervescent granules that meet quality requirements and exhibit an increasing tannin content as the extract concentration rises.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Buah murbei (<em>Morus nigra</em> L.) diketahui mengandung senyawa fenolik terutama flavonoid dan tanin yang memiliki efek farmakologis seperti antioksidan, antibakteri dan antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan granul <em>effervescent</em> ekstrak buah murbei dan mengevaluasi kadar tanin. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan metode eksperimental. Penetapan kadar tanin dilakukan menggunakan metode <em>Folin-Ciocalteu</em> melalui pembentukan kompleks berwarna yang dianalisis dengan spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi buah murbei dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:10 dan menghasilkan rendemen sebesar 16,2. Granul <em>effervescent</em> diformulasikan dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak yaitu F1 (5%), F2 (10%) dan F3 (15%). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, waktu alir (<10 detik), sudut diam (25<sup>o</sup>-40<sup>o</sup>), kompresibilitas (< 20%), pH larutan (5-7), waktu larut (< 5 menit) dan kadar air (< 5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar tanin pada ekstrak adalah 67,68 mg GAE/g dan granul effervescent dalam rentang 8,50 sampai 14,96 mg GAE/g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah murbei berhasil diformulasikan menjadi granul <em>effervescent </em>yang memenuhi persyaratan mutu dan memiliki kadar tanin yang meningkat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/609Pengetahuan Ibu Berhubungan dengan Kelengkapan Imunisasi Lanjutan pada Balita Usia 37 s/d 60 Bulan di Puskesmas Arga Mulya2025-08-15T14:32:07+00:00Santini Manik[email protected]Isfaizah[email protected]<p><em>Low coverage of follow-up immunizations in toddlers is caused by parental behavior. Knowledge plays an important role in shaping a person's behavior, whereby people with low knowledge about immunization tend not to believe in the benefits of immunization for children. There are still mothers in the Arga Mulya Community Health Center working area who do not provide follow-up immunizations for their toddlers, even though health workers have provided education and counseling through the integrated health service post (posyandu). The purpose of this study was to determine the relationship between mothers' knowledge and the completeness of follow-up immunizations in toddlers aged 37-60 months at the Arga Mulya Community Health Center. The research design used was quantitative with a cross-sectional survey approach. The population consisted of all mothers with toddlers aged 37 to 60 months, totaling 209 mothers. The sampling technique used was non-probability sampling with a purposive sampling approach that met the inclusion and exclusion criteria, resulting in a sample of 68 respondents. The results showed that the majority of mothers had sufficient knowledge about follow-up immunizations, with 31 mothers (45.6%) having adequate knowledge; the majority had completed follow-up immunizations, with 39 mothers (57.4%) having done so; and there was a relationship between mothers' knowledge about follow-up immunizations and the completion of follow-up immunizations, with a p-value of 0.017. Mothers must pay attention to their children's health, one of which is by providing follow-up immunizations so as to reduce unexpected risks for toddlers.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Rendahnya cakupan imunisasi lanjutan pada balita disebabkan oleh perilaku orang tua. Pengetahuan memegang peranan penting dalam pembentukan perilaku seseorang, di mana orang dengan pengetahuan yang rendah tentang imunisasi cenderung tidak percaya pada manfaat imunisasi bagi anak. Masih ditemukan ibu di wilayah kerja Puskesmas Arga Mulya yang tidak melakukan imunisasi lanjutan bagi balitanya, meskipun petugas kesehatan sudah melakukan edukasi dan penyuluhan melalui posyandu. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi lanjutan pada balita usia 37-60 bulan di Puskesmas Arga Mulya. Desain penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional survey</em>. Populasinya yaitu seluruh ibu yang memiliki balita usia 37 s.d. 60 bulan sejumlah 209 ibu. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>non-probability sampling</em> dengan jenis pendekatan purposive sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga didapatkan sampel 68 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi lanjutan mayoritas pada pengetahuan cukup sebanyak 31 ibu (45,6%); gambaran kelengkapan imunisasi lanjutan mayoritas telah melengkapi imunisasi lanjutan sejumlah 39 ibu (57,4%); dan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi lanjutan dengan kelengkapan imunisasi lanjutan dengan nilai p-value 0,017. Ibu wajib dan harus memperhatikan kesehatan anaknya, salah satunya dengan pemberian imunisasi lanjutan sehingga dapat mengurangi risiko yang tidak diharapkan bagi balita.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/729Efektivitas Latihan Kaki terhadap Kualitas Hidup pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Sebuah Studi Kuasi-Eksperimental2026-04-04T09:49:27+00:00Nabila Zidni Aulia [email protected]Rosalina[email protected]<p><em>Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease that not only impacts metabolic aspects but also multidimensionally impacts patients' quality of life. This study aims to analyze the effect of foot exercise intervention on quality of life in patients with type 2 diabetes mellitus, as a non-pharmacological approach that is easily implemented in care practices. This study used a quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach. Respondents consisted of patients with type 2 diabetes mellitus who met the inclusion criteria and the WHOQOL-BREF quality of life measurement instrument. The foot exercise intervention was delivered in a structured manner for 2 weeks, and analysis was performed to compare changes before and after the intervention using an independent t-test. The results showed a significant improvement in patients' quality of life after the foot exercise intervention, with a p-value of 0.000. This improvement was seen in various domains, particularly physical and psychological aspects. Physiologically, the improvement in quality of life was influenced by changes in peripheral circulation, glycemic control, and reduced neuropathic pain. Psychologically, physical activity contributed to improved mood, self-confidence, and the ability to adapt to chronic illness. Overall, foot exercise has been shown to be an effective non-pharmacological intervention in improving the quality of life of patients with type 2 diabetes mellitus. The implications of this study emphasize the importance of integrating physical activity into evidence-based care. This intervention contributes not only to clinical aspects but also to improving patients' holistic well-being.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang tidak hanya berdampak pada aspek metabolik, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup pasien secara multidimensional. Penelitian ini dilakukan di puskesmas adanya peningkatan kasus DM serta didasarkan pada ketersediaan populasi yang relevan serta kemudahan dalam implementasi intervensi nonfarmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi senam kaki terhadap kualitas hidup pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2, sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis yang mudah diterapkan dalam praktik keperawatan. Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi-eksperimental</em> dengan pendekatan <em>pre-test dan post-test control group</em>. Responden terdiri dari pasien Diabetes Mellitus tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi, instrumen pengukuran kualitas hidup WHOQOL-BREF. Intervensi senam kaki diberikan secara terstruktur selama 2 minggu, dan analisis dilakukan untuk membandingkan perubahan sebelum dan sesudah intervensi dengan <em>t-test independent</em>. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kualitas hidup pasien setelah diberikan intervensi senam kaki dengan nilai p-value 0,000. Peningkatan ini terlihat pada berbagai domain, terutama aspek fisik dan psikologis. Secara fisiologis, perbaikan kualitas hidup dipengaruhi oleh peningkatan sirkulasi perifer, kontrol glikemik, serta penurunan nyeri neuropatik. Secara psikologis, aktivitas fisik berkontribusi pada peningkatan suasana hati, kepercayaan diri, dan kemampuan adaptasi terhadap penyakit kronis. Secara keseluruhan, senam kaki terbukti sebagai intervensi nonfarmakologis yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien Diabetes Mellitus tipe 2. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya integrasi aktivitas fisik dalam praktik keperawatan berbasis bukti. Intervensi ini tidak hanya berkontribusi pada aspek klinis, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan holistik pasien.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/723Hubungan Dukungan Keluarga dengan Self-Care Management pada Penderita Hiv/Aids (ODHA) di Puskesmas Bergas2026-03-14T23:23:57+00:00Luluk Sri Nurhalizha[email protected]Liyanovitasari[email protected]<p><em>Self-care management is the ability of people living with HIV/AIDS (PLWHA) to manage their health independently through adherence to ARV therapy, health decision-making, adoption of a healthy lifestyle, and daily condition monitoring. This ability is important for maintaining immune status, preventing complications, and improving quality of life during long-term treatment. Its implementation is influenced by external factors, especially family support, which helps PLWHA cope with physical, psychological, and social problems, thereby contributing to the success of self-care management. This study aims to determine the relationship between family support and self-care management in PLWHA. This study used a quantitative method with a correlational descriptive design through a cross-sectional approach. The population consisted of all HIV/AIDS patients undergoing ARV therapy, with a sample of 144 respondents using total sampling technique. The instruments used were the family support questionnaire (MSPSS Family) and self-care management. Data analysis was performed univariately and bivariately using Spearman Rank correlation test. The results showed that most respondents had high levels of family support (130 respondents, 90.3%) and high levels of self-care management (135 respondents, 93.8%). Bivariate analysis showed a significant relationship between family support and self-care management in HIV/AIDS patients at the Bergas Community Health Center with a p-value < 0.001 and a correlation coefficient of r = 0.762. Family support plays an important role in improving the ability of PLWHA to manage their own self-care. Therefore, family involvement in PLWHA service and assistance programs is necessary to improve the success of self-care management and the quality of life of patients.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p><em>Self-care management</em> adalah kemampuan penderita HIV/AIDS (ODHA) dalam mengelola kesehatannya secara mandiri melalui kepatuhan terapi ARV, pengambilan keputusan kesehatan, penerapan gaya hidup sehat, dan pemantauan kondisi harian. Kemampuan ini penting untuk menjaga status imun, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup selama pengobatan jangka panjang. Pelaksanaannya dipengaruhi faktor eksternal, terutama dukungan keluarga, yang membantu ODHA menghadapi masalah fisik, psikologis, dan sosial sehingga berperan dalam keberhasilan self care management. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan <em>Self-care management</em> pada ODHA. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional melalui pendekatan <em>Cross Sectional</em>. Populasi adalah seluruh penderita HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV, dengan sampel 144 responden menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dukungan keluarga (MSPSS Family) dan self care management. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga dalam kategori tinggi sebanyak 130 responden (90,3%) dan <em>self care management</em> dalam kategori tinggi sebanyak 135 responden (93,8%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan <em>self-care management</em> pada penderita HIV/AIDS di Puskesmas Bergas dengan nilai <em>p-value</em> 0,001 dan koefisien korelasi r = 0,762. Dukungan keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan ODHA dalam mengelola perawatan diri secara mandiri. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan keluarga dalam program pelayanan dan pendampingan ODHA untuk meningkatkan keberhasilan <em>self-care management</em> dan kualitas hidup penderita.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/726Analisis Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 22026-03-28T11:07:59+00:00Natasya Ayu Lestari[email protected]Dian Oktianti[email protected]<p><em>The prevalence of type 2 diabetes mellitus continues to rise, which will impact patients’ quality of life. Patient adherence to medication is a key factor in controlling blood glucose levels. The objective of this study was to determine the relationship between medication adherence and blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus. This study employed a quantitative analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 35 patients with type 2 diabetes mellitus enrolled in the Prolanis program, selected using total sampling. Medication adherence was measured using the pill count method, while fasting blood glucose levels were obtained from clinical examination results. The results of this study indicate that a majority of patients demonstrated medication adherence in the compliant category (94.3%) and uncontrolled blood glucose levels (74.3%). The Spearman’s test showed a p-value of 0.406 > 0.05, indicating no significant association between the two variables. The correlation coefficient was 0.145, suggesting a positive but very weak relationship between the two variables. The conclusion of this study is that patients’ blood glucose levels are not solely influenced by medication adherence; therefore, additional interventions such as education for patients and their families are necessary. </em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Prevalensi Diabetes melitus tipe 2 terus meningkat sehingga akan berdampak pada kualitas hidup pasien. Kepatuhan pasien dalam minum obat menjadi salah satu faktor penting dalam pengendalian kadar gula darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan minum obat terhadap kadar gula darah pasien diabetes mellitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 35 pasien diabetes melitus tipe 2 peserta Prolanis di Puskesmas Ambarawa yang diambil menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Kepatuhan minum obat diukur dengan metode <em>pill count</em>, sedangkan kadar gula darah puasa diperoleh dari hasil pemeriksaan klinis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian pasien memiliki kepatuhan minum obat dalam kategori patuh (94,3%) dan kadar gula darah yang tidak terkontrol (74,3%). Uji <em>Spearman</em> menunjukkan nilai <em>p-value</em> 0,406 > 0,05, sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antar dua variabel, hasil korelasi menunjukkan nilai 0,145, sehingga hubungan kedua variable memiliki arah yang positif dan sangat lemah. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar gula darah pasien tidak hanya dipengaruhi oleh kepatuhan minum obat, sehingga diperlukan intervensi lain seperti edukasi kepada pasien dan keluarganya.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/720Potensi Antibakteri Ekstrak Daun Gatal (Laportea aestuans L. Chew) Terhadap Staphylococcus aureus dengan Metode Dilusi Cair2026-03-13T05:41:45+00:00Emma Jayanti Besan[email protected]Endang Setyowati[email protected]Muhammad Nurul Fadel[email protected]Ulfa Nabila Besan[email protected]<p><em>Staphylococcus aureus is a pathogenic bacterium often associated with skin infections and various other diseases. The increasing prevalence of antibiotic resistance has prompted the search for alternative antibacterial agents derived from medicinal plants. Daun Itch (Laportea aestuans L. Chew), a plant from Eastern Indonesia, known locally as daun itch, contains bioactive compounds such as flavonoids, tannins, saponins, and terpenoids, which are reported to have antimicrobial potential. This study aims to evaluate the antibacterial activity of ethanol extract of daun itch against Staphylococcus aureus using the liquid dilution method. Daun itch was macerated using 70% ethanol for 5 days, phytochemical screening tests were carried out using two methods, namely Thin Layer Chromatography (TLC) and Tube Test. Observation of antibacterial activity by determining the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) through a series of dilutions in Brain Heart Infusion (BHI) media. The results of phytochemical screening showed that the ethanol extract of daun itch contains flavonoids, saponins, tannins and terpenoids using TLC and Tube Test. Bacterial growth was assessed visually based on turbidity and confirmed by subculture on Mannitol Salt Agar (MSA). The MIC and MBC values of the ethanol extract against Staphylococcus aureus were 300 mg/mL and 600 mg/mL, respectively. These concentrations indicate that the higher the concentration used, the greater the inhibitory effect on bacterial growth. These findings indicate that the extract of daun itch leaves has significant antibacterial activity against Staphylococcus aureus and can serve as a natural source of antibacterial agents. Further research is needed to isolate and characterize the active compounds that act as antibacterials.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p><em>Staphylococcus aureus</em> adalah bakteri patogen yang sering dikaitkan dengan infeksi kulit dan berbagai penyakit lainnya. Prevalensi resistensi antibiotik yang semakin meningkat telah mendorong pencarian agen antibakteri alternatif yang berasal dari tanaman obat. Daun Gatal (<em>Laportea aestuans </em>L. Chew), tanaman dari Indonesia Timur, yang dikenal secara lokal sebagai daun gatal, mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid, yang dilaporkan memiliki potensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun gatal terhadap <em> Staphylococcus aureus</em> menggunakan metode dilusi cair. Daun gatal dimaserasi menggunakan etanol 70% selama 5 hari, uji skrining fitokimia dilakukan dengan dua metode yaitu Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Uji Tabung. Pengamatan aktivitas antibakteri dengan menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) melalui seri pengenceran dalam media <em>Brain Heart Infusion</em> (BHI). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun gatal mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid menggunakan uji KLT dan Uji Tabung. Pertumbuhan bakteri dinilai secara visual berdasarkan kekeruhan dan dikonfirmasi dengan subkultur pada <em>Mannitol Salt Agar</em> (MSA). Nilai KHM dan KBM ekstrak etanol terhadap <em>Staphylococcus aureus</em> adalah 300 mg/mL dan 600 mg/mL. Konsentrasi tersebut menunjukkan semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka efek penghambatan pertumbuhan bakteri juga akan meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak daun daun gatal memiliki aktivitas antibakteri yang signifikan terhadap <em>Staphylococcus aureus</em> dan dapat berfungsi sebagai sumber alami agen antibakteri. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi senyawa aktif yang berperan sebagai antibakteri.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Scienceshttps://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/article/view/731Hubungan Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Kanker Serviks dengan Partisipasi Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)2026-04-12T16:51:13+00:00Nuraini Yulianti[email protected]Luvi Dian Afriyani[email protected]<p><em>Cervical cancer is one of the leading causes of death among women, particularly in developing countries, and can be prevented through early detection using the Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) test. However, the coverage of VIA screening at UPTD Puskesmas Sepaku III remains low. This is due to limited knowledge contribute to low participation in VIA screening. This study aimed to analyze the relationship between the level of knowledge of women of reproductive age (WRA) about cervical cancer and their participation in VIA screening in the working area of UPTD Puskesmas Sepaku III. The literature review in this study employed the Health Belief Model (HBM) framework to explain how knowledge influences risk perception, perceived benefits, and individual decision-making regarding screening. The research used a quantitative method with a correlational analytic design and a cross-sectional approach. Sampling was conducted using a simple random sampling technique involving 95 women of reproductive age. Data were collected through a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability, and were then analyzed using the chi-square statistical test. The results showed that most respondents had a good level of knowledge; however, although the majority were knowledgeable, there were still proportions of women with moderate and low knowledge that statistically influenced participation in VIA screening. Statistical analysis indicated a significant relationship between the level of knowledge of women of reproductive age about cervical cancer and participation in VIA screening (p-value = 0.027). This study concludes that knowledge plays an important role in encouraging women’s participation in VIA screening; therefore, continuous and contextually relevant health education needs to be strengthened.</em></p> <p> </p> <p><strong>A</strong><strong>BSTRAK</strong></p> <p>Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian pada perempuan, khususnya di negara berkembang, yang dapat dicegah melalui deteksi dini menggunakan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Namun, cakupan pemeriksaan IVA di UPTD Puskesmas Sepaku III masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan karena rendahnya pengetahuan mempengaruhi rendahnya partisipasi dalam pemeriksaan IVA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan wanita usia subur (WUS) tentang kanker serviks dengan partisipasi pemeriksaan IVA di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sepaku III. Kajian pustaka dalam penelitian ini menggunakan kerangka <em>Health Belief Model</em> (HBM) untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan mempengaruhi persepsi risiko, manfaat, dan keputusan individu dalam melakukan skrining. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik <em>simple random sampling</em> terhadap 95 WUS. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik <em>chi-square</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik, meskipun mayoritas berpengetahuan baik, masih terdapat proporsi WUS dengan pengetahuan cukup dan kurang yang memengaruhi partisipasi pemeriksaan IVA secara statistik. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan WUS tentang kanker serviks dengan partisipasi pemeriksaan IVA (p-value = 0,027). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan berperan penting dalam mendorong partisipasi WUS dalam pemeriksaan IVA, sehingga diperlukan penguatan edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan kontekstual.</p>2026-03-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Journal of Holistics and Health Sciences