https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/issue/feedJurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)2026-02-28T00:00:00+00:00Aristiyanto[email protected]Open Journal Systems<div class="body"> <div class="description"> <div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 10px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li>Nama Jurnal: <a href="http://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi">Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia</a></li> <li>Singkatan: JPMMI</li> <li>Frekuensi: Februari dan Agustus</li> <li>ISSN: Print - | Online 2621-1254</li> <li>Editor in Chief: Aristiyanto, S. Si. M. Pd.</li> <li>DOI: 10.35473/jpmmi</li> <li>Akreditasi : -</li> <li>Penerbit: LPPM Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p>Jurnal JPMMI terbit dua kali setahun pada bulan Februari dan Agustus berisi tentang tulisan ilmiah tentang hasil pengabdian</p> </div> </div>https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/699MODEL EDUKASI MENTAL HEALTH, ANTI-NARKOBA, DAN ANTI-PELECEHAN DALAM PENCEGAHAN KENAKALAN REMAJA BERBASIS KESADARAN HUKUM 2026-02-17T03:47:15+00:00Hani Irhamdessetya[email protected]Vincentius Simon Suyanto[email protected]Alfan Afandi[email protected]<p><em>Juvenile delinquency constitutes a multidimensional issue influenced by psychological and social factors, including low levels of mental health literacy and legal awareness. The increasing incidence of narcotics abuse and sexual harassment among adolescents highlights the necessity of preventive education-based interventions within the school environment. This article aims to analyze the effectiveness of an integrated educational model based on mental health literacy, anti-narcotics awareness, and anti-harassment education in enhancing legal awareness among students of SMK Pangudi Luhur Tarcisius Semarang. The study employs a combination of normative juridical and participatory-educational approaches within the framework of community service, utilizing observation and participatory evaluation techniques. The findings indicate an improvement in students’ understanding of mental health management and the legal consequences of narcotics abuse and sexual harassment. The integration of psychological and normative approaches proves effective in strengthening legal awareness, self-control, and preventive attitudes among students. The model contributes as a primary preventive strategy against school-based juvenile delinquency.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kenakalan remaja merupakan permasalahan multidimensional yang dipengaruhi faktor psikologis dan sosial, termasuk rendahnya literasi kesehatan mental serta kesadaran hukum. Peningkatan kasus penyalahgunaan narkotika dan pelecehan seksual di kalangan remaja menunjukkan perlunya pendekatan preventif berbasis edukasi di lingkungan sekolah. Artikel ini bertujuan menganalisis efektivitas model edukasi terpadu berbasis mental health, anti-narkoba, dan anti-pelecehan dalam meningkatkan kesadaran hukum siswa SMK Pangudi Luhur Tarcisius Semarang. Metode yang digunakan adalah kombinasi pendekatan yuridis normatif dan partisipatif-edukatif dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat, dengan teknik observasi dan evaluasi partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap pengelolaan kesehatan mental dan konsekuensi hukum penyalahgunaan narkoba serta pelecehan seksual. Integrasi pendekatan psikologis dan normatif terbukti efektif membangun kesadaran hukum, kontrol diri, dan sikap preventif siswa. Model ini berkontribusi sebagai strategi pencegahan primer kenakalan remaja berbasis sekolah.</p>2026-02-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/563PELATIHAN KADER PKK DAN KADER POSYANDU DALAM PEMBUATAN PMT BERBAHAN DASAR IKAN LELE SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PENCEGAHAN STUNTING DESA KUWARASA2025-04-16T03:41:29+00:00Isfaizah[email protected]Dea Ayu Vidina[email protected]Novita Dwi Aryani[email protected]Diyah Anggreini[email protected]<p><em>One of the issues in Kuwarasan Village is growth disorders in children, often referred to as stunting. In Kuwarasan Village, five children have been identified as stunted, and the local posyandu routinely provides supplementary feeding (PMT) to children at risk of stunting. To prevent further cases of stunting in children in Kuwarasan Village, KKN students have proposed the idea of making catfish nuggets by incorporating carrots as a key ingredient. The method used in this initiative is a workshop, which involves socialization and training. The socialization aspect includes presenting material on the nutritional content and benefits of catfish, followed by training in processing catfish into nuggets. The target audience for this activity consisted of members of the PKK (Family Welfare Empowerment) and posyandu cadres in Kuwarasan Village, with a total of 35 participants. This community service activity, aimed at empowering participants through training in catfish processing, was carried out in several stages. These included presenting material on the importance of preventing stunting through proper nutritional intake from processed catfish, introducing local food ingredients, discussing the benefits and nutritional content of catfish, and exploring various food preparations that can be made using catfish. The training on catfish utilization culminated in the creation of innovative catfish nugget products, intended to serve as a PMT menu in theeffort to prevent stunting.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Salah satu permasalahan yang ada di Desa Kuwarasan ialah gangguan pertumbuhan pada anak atau sering disebut dengan stunting. Di Desa Kuwarasan sendiri terdapat 5 orang anak yang terindikasi stunting, kemudian posyandu setempat rutin melakukan pemberian PMT bagi anak yang mengalami resiko stunting. Oleh karena itu, untuk mencegah stunting yang berkelanjutan pada anak di Desa Kuwarasan, mahasiswa KKN memiliki rancangan ide pembuatan Nugget ikan lele dengan mengkombinasikan bahan dasar wortel. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Worshop yaitu sosialisasi dan pelatihan, sosialisasi terdiri dari pemaparan materi mengenai kandungan serta manfaat ikan lele kemudian pelatihan pembuatan olahan ikan lele menjadi nugget. Sasaran kegiatan ini adalah komunitas ibu PKK dan kader posyandu di Desa Kuwarasan dengan jumlah 35 peserta. Kegiatan pengabdian masyarakat melalui pemberdayaan pelatihan pengolahan ikan lele dilakukan dengan beberapa tahapan, diantaranya pemaparan materi tentang pengetahuan pentingnya pencegahan stunting melalui asupan gizi dari olahan ikan lele, serta pengenalan bahan pangan lokal, manfaat ikan lele, kandungan ikan lele, dan olahan makanan yang dapat dicampurkan dengan ikan lele. Dengan demikian pelatihan pemanfaatan ikan lele dilakukan untuk menghasilkan inovasi produk nugget ikan lele sebagai menu PMT dalam rangka upaya pencegahan stunting.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/544SOSIALISASI PERNIKAHAN DINI DAN KESEHATAN REPRODUKSI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI SMK TARUNATAMA GETASAN2025-03-04T06:09:47+00:00Febyolla Dia[email protected]Yoanita Ezharyan[email protected]Ayu Putri[email protected]Fatima Anhar[email protected]Berlian Sesa[email protected]Aura Valentina[email protected]Daimatus Sholikhah[email protected]Deva Yulia[email protected]Fernanda Bagus[email protected]Araaf Zulfan[email protected]Natalia Devi Oktarina[email protected]<p><em>Stunting is one of the significant health problems in Semarang Regency, especially related to the low understanding of early marriage and reproductive health. This study aims to analyze the effectiveness of socialization about early marriage and reproductive health at SMK Tarunatama as an effort to prevent stunting in Semarang Regency, this socialization was attended by grade 12 with 30 respondents, data collection using pre-test and post-test. The method used is quantitative method, data analysis using two paired samples test (Paired Sample t Test).The results show that the average value of the post-test is greater than the average value of the pre-test, this shows that students who take part in socialization have increased knowledge about the risks of early marriage and the importance of reproductive health in preventing stunting in children in the future. The results of the study using the Paired Sample t Test analysis show that the significant obtained is 0.001 which is smaller than the alpha value of 0.05 thus Ho is rejected and Ha is accepted. it can be concluded that there is a significant difference or effectiveness before and after being given the socialization of early marriage and reproductive system health.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan di Kabupaten Semarang, terutama terkait dengan rendahnya pemahaman mengenai pernikahan dini dan kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas sosialisasi tentang pernikahan dini dan kesehatan reproduksi di SMK Tarunatama sebagai upaya pencegahan stunting di Kabupaten Semarang, sosialisasi ini di ikuti kelas 12 dengan 30 responden, pengumpulan data dengan menggunakan pre-test dan post-test. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, Analisis data menggunakan uji dua sampel berpasangan<em> ( Paired Sample t Test )</em>. Hasil menunjukkan nilai rata post-test lebih besar dari nilai rata pre-test, hal ini menunjukan bahwa siswa yang mengikuti sosialisasi memiliki peningkatan pengetahuan tentang risiko pernikahan dini dan pentingnya kesehatan sistem reproduksi dalam mencegah stunting pada anak di masa depan. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis <em>Paired Sample t Test </em>menunjukan bahwa signifikan yang diperoleh 0,001 yang dimana lebih kecil dari nilai alpha 0,05 dengan demikian Ho di tolak dan Ha diterima. hal ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan atau efektivitas yang signifikan sebelum dan sesudah di berikan sosialisasi pernikahan dini dan kesehatan sistem reproduksi.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/635PEMANFAATAN DAUN PEPAYA SEBAGAI PESTISIDA NABATI DALAM UPAYA MENDUKUNG PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DI DESA PLUMUTAN 2025-09-01T07:00:58+00:00Sindy Kurniawati[email protected]Hesti Ayu Latifah[email protected]Innes Yusnia Isfada[email protected]Reva Lina Rika[email protected]Khayatun Nufus[email protected]Rosalia Ayang Sari[email protected]Eunike Darlane Christela[email protected]Stieven Herbet Aprillianes[email protected]Salsabilla Maulida Setiawan[email protected]Feni[email protected]Lutfiah Isnaeni[email protected]<p><em>The excessive use of chemical pesticides over the long term can have negative impacts on human health and the environment. Therefore, more environmentally friendly pest control alternatives are needed, one of which is the use of botanical pesticides. This activity aims to enhance the knowledge and skills of farmer groups in utilizing papaya leaves as botanical pesticides in Plumutan Village, Bancak Sub-district, Semarang Regency. The methods employed include disseminating information and conducting hands-on training in the production of botanical pesticides using simple, readily available materials such as papaya leaves, liquid soap, and clean water. The results of the activity show that the farmer group can understand the steps in making plant-based pesticides, from the preparation of materials to their application on plants. The participants' enthusiasm was evident in their active participation in the question-and-answer session regarding storage, dosage, and the effectiveness of plant-based pesticides. The overall response from the farmer group was very positive; they stated they were ready to try and apply plant-based pesticides on their</em> <em>respective farmlands. In conclusion, this awareness-raising activity successfully enhanced the farmers' understanding of environmentally friendly agriculture while encouraging the adoption of simple technologies that have the potential to reduce the use of chemical pesticides.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan, salah satunya dengan memanfaatkan pestisida nabati. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kelompok tani dalam memanfaatkan daun pepaya sebagai pestisida nabati di Desa Plumutan, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi materi dan praktik langsung pembuatan pestisida nabati dengan bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, yaitu daun pepaya, sabun cair, dan air bersih. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kelompok tani dapat memahami tahapan pembuatan pestisida nabati, mulai dari proses persiapan bahan hingga pengaplikasian pada tanaman. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi tanya jawab terkait penyimpanan, dosis penggunaan, serta efektivitas pestisida nabati. Respon kelompok tani secara keseluruhan sangat positif, mereka menyatakan siap untuk mencoba dan menerapkan pestisida nabati di lahan pertanian masing-masing. Kesimpulannya, kegiatan sosialisasi ini berhasil meningkatkan wawasan kelompok tani mengenai pertanian ramah lingkungan sekaligus mendorong penerapan teknologi sederhana yang berpotensi mengurangi penggunaan pestisida kimia.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/637PEMANFAATAN AVOCADO DESSERT SEBAGAI MAKANAN TAMBAHAN PADA BALITA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI DESA PASEKAN KECAMATAN AMBARAWA2025-09-01T11:47:55+00:00Salma Nafis Sani[email protected]Gipta Galih Widodo[email protected]Marsela Sri Rejeki[email protected]Fatimatuz Zahro Suwarno[email protected]Iga Rosi Retnawati[email protected]Alfiatur Rohmani'ah[email protected]Nabilla Az-Zahra[email protected]Muhammad Ramdhani[email protected]Ellysa Destiar Putri Wulandhari[email protected]Ismerdiana Wenda[email protected]Aprillyandhitra Fahzaresri Witiarso[email protected]Septian Sinar Aji Nugroho[email protected]<p><em>Stunting is a condition of growth failure in toddlers where the child's height is shorter than children of the same age as measured by Height for Age (H/A) or Length for Age (H/A) with the result being less than 2 standard deviations (<2SD). In Ambarawa District, the number of short toddlers (H/A) in 2024 was recorded at 51 toddlers, while the prevalence of malnutrition (W/A) reached 101 toddlers. The impact of stunting is not only felt in childhood, but also continues into adulthood. Children who experience stunting are at risk of not reaching their maximum potential physically, mentally, and intellectually. One innovation in utilizing avocado is by processing it into a dessert as a nutritious supplementary food (PMT). Pasekan Village has potential that is considered quite prospective and has high economic value in the development of nutritious food in Pasekan Village, namely avocado. Efforts to prevent stunting require a comprehensive approach and active community participation, including through socialization aimed at increasing knowledge and skills in processing avocados into avocado desserts. The method used is socialization regarding stunting and the benefits of avocados. The avocado dessert training method was conducted to develop product innovations to prevent stunting. The introduction of avocado dessert received a very positive response from participants. Participants were very active in following the avocado dessert-making process and actively engaged in discussions with the team.</em></p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada usia balita dimana tinggi badan anak lebih pendek pada anak-anak diseusianya yang di ukur dengan Tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) yang hasilnya kurang dari 2 tandard Deviasi (<2SD). Di Kecamatan Ambarawa, jumlah balita pendek (TB/U) pada tahun 2024 tercatat sebanyak 51 balita, sedangkan prevalensi gizi kurang (BB/U) mencapai 101 balita. Dampak stunting tidak hanya dirasakan pada masa kanak-kanak, tetapi juga berlanjut hingga dewasa. Anak yang mengalami stunting berisiko tidak mencapai potensi maksimal secara fisik, mental, maupun intelektual. Salah satu inovasi pemanfaatan alpukat adalah dengan mengolahnya menjadi dessert sebagai makanan tambahan (PMT) bergizi. Desa Pasekan memiliki potensi yang dinilai cukup prospektif dan bernilai ekonomi tinggi dalam pengembangan pangan bergizi di Desa Pasekan yaitu buah alpukat. Upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan menyeluruh dan partisipasi aktif masyarakat, termasuk melalui sosialisasi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan alpukat menjadi dessert alpukat. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi mengenai stunting dan manfaat alpukat. Metode pelatihan pengolahan dessert alpukat dilakukan untuk menghasilkan inovasi produk dalam rangka upaya pencegahan stunting. Kegiatan pengenalan avocado dessert ini mendapat respons yang sangat positif dari peserta. Para peserta sangat aktif mengikuti proses pembuatan avocado dessert dan peserta aktif berdiskusi kepada tim.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/650EDUKASI PERSONAL DAN PEMBERIAN PMT BAGI BALITA STUNTING DI DESA LANJAN MELALUI PENDEKATAN DOOR TO DOOR2025-09-09T11:21:37+00:00Intan Nurcahyani[email protected]Reti Purwasi[email protected]Putri Amanatun Ni'mah[email protected]Teguh Harso Widagdo[email protected]Shinta Tia Pramudita[email protected]Azizah Sella Lestari[email protected]Nur Hidayah[email protected]Hesti Nuralifah[email protected]Ansgar Kevin Bali Waluyo[email protected]Yusda Ryansyah[email protected]Heni Arifatul Hidayah[email protected]<p><em>Stunting remains a major nutritional problem among children under five in Indonesia, including in rural areas such as Lanjan Village. This condition not only affects physical growth but also cognitive development and long- term productivity. The purpose of this activity was to improve mothers’ knowledge and practices regarding stunting prevention through personal education combined with supplementary feeding (PMT). The target participants were five mothers and their five stunted toddlers. The method used was a door-to-door approach, consisting of personalized education, participatory discussion, and the provision of PMT to support daily nutrition. The results showed that mothers actively participated and shared challenges, particularly related to picky eating behavior and irregular eating moods in children. Feedback indicated increased knowledge, awareness, and motivation among mothers to implement balanced nutrition in daily feeding practices. In conclusion, a personal and participatory educational approach combined with supplementary feeding is effective in increasing mothers’ knowledge and motivation while addressing real challenges in child feeding, thus supporting stunting prevention in rural communities</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Stunting masih menjadi masalah gizi utama pada anak balita di Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan seperti Desa Lanjan. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik tetapi juga perkembangan kognitif dan produktivitas jangka panjang. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan praktik ibu terkait pencegahan stunting melalui edukasi personal yang dikombinasikan dengan pemberian makanan pendamping tambahan (PMT). Sasaran kegiatan adalah 5 ibu dan 5 balita stunting. Metode yang digunakan yaitu pendekatan door to door melalui edukasi personal, diskusi partisipatif, serta pemberian PMT sebagai dukungan gizi sehari- hari. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ibu balita berpartisipasi aktif serta mengemukakan tantangan, terutama terkait perilaku picky eater dan mood makan anak yang tidak teratur. Umpan balik menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan motivasi ibu dalam menerapkan gizi seimbang pada pola makan balita. Kesimpulannya, pendekatan edukasi personal yang partisipatif dengan pemberian PMT terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan motivasi ibu sekaligus menjawab tantangan nyata dalam pemberian makan, sehingga mendukung upaya pencegahan stunting di masyarakat pedesaan.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)https://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jpmmi/article/view/652EDUKASI PHBS DENGAN PENDEKATAN PRAKTIK LANGSUNG SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK KEBIASAAN CUCI TANGAN PADA ANAK USIA SEKOLAH DI SDN 01 SUKODADI2025-09-11T07:35:48+00:00Jazala Jihan Rufaeda[email protected]Muhammad Arifin Ilham[email protected]Aprilia Nurul Aini Yasin[email protected]<p><em>The health of school-aged children is often affected by the lack of clean and healthy living practices, particularly proper handwashing, which can increase the risk of infectious diseases. This activity aimed to improve students’ knowledge and skills in applying clean and healthy living behaviors through direct handwashing education using soap. The method applied consisted of simple material delivery, demonstration of the six steps of handwashing, guided practice, interactive discussion, and educational games designed to create an engaging learning experience. The program was conducted at SDN 01 Sukodadi involving second- and third-grade students who actively participated in each session. The results showed an increase in students’ understanding of the importance of handwashing and its benefits for health, as well as improvements in their ability to follow the correct steps of handwashing. Observations indicated that most students were able to recall and perform the handwashing sequence properly after receiving direct guidance and demonstration. Moreover, students were enthusiastic and more motivated to learn because the materials were delivered through visual media, songs, and interactive games. Based on these findings, it can be concluded that practice-based education had a positive impact on enhancing students’ awareness, knowledge, and skills in maintaining personal hygiene. This activity proved to be effective in fostering clean and healthy habits from an early age and is expected to be implemented continuously both at school and at home.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kesehatan anak usia sekolah sering terganggu akibat kurangnya penerapan perilaku hidup bersih, terutama kebiasaan mencuci tangan, yang berisiko menimbulkan penyakit menular. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui edukasi praktik mencuci tangan menggunakan sabun. Metode yang digunakan berupa penyampaian materi sederhana, demonstrasi enam langkah mencuci tangan, praktik bersama, sesi tanya jawab, serta permainan edukatif yang menyenangkan. Kegiatan dilaksanakan di SDN 01 Sukodadi dengan sasaran siswa kelas dua dan tiga yang diajak terlibat aktif dalam setiap sesi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa mengenai pentingnya mencuci tangan dan manfaatnya bagi kesehatan, sekaligus keterampilan mereka dalam mengikuti tahapan mencuci tangan dengan benar. Observasi juga memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa mampu mengingat dan mempraktikkan langkah-langkah cuci tangan setelah diberikan bimbingan dan contoh secara langsung. Selain itu, siswa terlihat antusias dan lebih mudah memahami materi karena dikemas dengan media visual, lagu, dan permainan interaktif. Berdasarkan temuan ini dapat disimpulkan bahwa edukasi berbasis praktik langsung memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam menjaga kebersihan diri. Kegiatan ini terbukti efektif untuk menanamkan kebiasaan hidup bersih sejak dini dan diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun rumah tangga.</p>2026-02-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment)